Jejak Lauw Pia Ngo di Madura

Posted: 10 April 2010 in Nusantara
Tag:,

BANGUNAN BERSEJARAH
Sabtu, 10 April 2010 | 03:55 WIB
Nasru Alam Aziz

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/10/03553387/jejak.lauw.pia.ngo.di.madura

Melintasi gerbang Masjid Agung Sumenep seolah memasuki lorong waktu. Selama lebih dari 200 tahun sudah bangunan gerbang berarsitektur China itu menyambut jemaah yang datang menunaikan shalat atau pelancong yang menikmati keindahannya.

Masjid Agung Sumenep yang dahulu bernama Masjid Jamik tersebut terletak di tengah-tengah kota Sumenep, Madura. Dari arah luar hanya tampak bangunan masjid berupa atap tajuk tumpang tiga, pengaruh arsitektur Jawa, sebab bangunan aslinya telah dikelilingi bangunan tambahan.

Masjid megah yang satu ini dibangun pada masa pemerintahan Adipati Sumenep Pangeran Natakusuma I atau yang dikenal Panembahan Somala (1762-1811). Pembangunannya dimulai tahun 1781—setelah Keraton Sumenep dibangun—dan baru rampung tahun 1787 atau enam tahun kemudian.

Keraton Sumenep dibangun pada 1764. Sebagai perbandingan, pada masa sebelumnya, Sultan Hamengku Buwono I membangun Keraton Yogyakarta tahun 1755 atau berselisih sembilan tahun.

Untuk membangun keraton dan masjid, Panembahan Somala menunjuk seorang etnis Tionghoa bernama Lauw Pia Ngo sebagai arsiteknya. Lauw Pia Ngo adalah cucu Lauw Khun Thing, salah satu dari enam warga Tionghoa yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep.

Keenam orang itu diduga pelarian asal Semarang, Jawa Tengah, akibat huru-hara Tionghoa tahun 1740. Mereka menetap, bekerja sebagai pengurus pasar, pabean, penjualan candu, tukang, dan pembuat kerajinan. Mereka lalu kawin dengan putri-putri Madura. Salah satu di antaranya, yaitu Lauw Koen Phing, adalah ahli bangunan yang menurunkan kepiawaiannya kepada Lauw Pia Ngo.

Atas jasanya merancang dan membangun masjid dan keraton, Lauw Pia Ngo diberi tanah perdikan di Pejagalan, sebelah utara alun-alun yang sekarang menjadi taman kota. ”Kawasan itu ditempati secara turun-temurun oleh marga Lauw. Mereka dibebaskan dari pajak,” cerita Edhi Setiawan, salah seorang penggerak kebudayaan Madura.

Saat ini kawasan dimaksud sudah ditumbuhi pertokoan. Kawasan itu menjadi salah satu pusat keramaian, terutama pada malam hari. Keturunan Lauw Pia Ngo pun terdesak arus perkembangan kota.

Tentara Tartar

Persentuhan antara warga Madura dan warga etnis Tionghoa diperkirakan berawal saat datangnya tentara Tartar dari Mongolia, yang kemudian dikalahkan pasukan Majapahit. Mereka datang sekitar tahun 1229 untuk memerangi Kertanegara.

Kontak berikutnya pada masa Perang Joko Tole melawan tentara China yang dipimpin Dempo Awang, abad XV.

Cerita yang berkembang menyebutkan, prajurit-prajurit Joko Tole ditumpas habis dan perahu-perahunya dihancurkan. ”Namun, cerita ini perlu diteliti lebih jauh karena terkesan berlebihan,” kata Lintu Tulistyantoro, dosen Universitas Kristen Petra, yang beberapa kali melakukan penelitian di Madura, khususnya Sumenep.

Orang-orang Tionghoa semakin banyak yang masuk ke Madura ketika Belanda menguasai wilayah itu pada abad XVIII. Belanda datang ke Sumenep pada kurun waktu 1648-1672, masa pemerintahan Raden Bugan atau Yudonegoro.

Menurut Lintu, berdasarkan data tahun 1815, Sumenep adalah daerah yang cukup ramai dihuni penduduk asing, seperti China, Arab, Melayu, dan Bugis. Jumlah penduduk asing di sana saat itu diperkirakan sekitar 6 persen, dua pertiga di antaranya tinggal di pusat kota.

”Kedatangan orang-orang Tionghoa terjadi melalui jalur perdagangan, bukan jalur resmi pemerintahan. Hadirnya masyarakat Tionghoa sampai saat ini masih dirasakan di daerah pesisir utara, seperti Dungkek, Pasongsongan, Ambunten, dan Slopeng. Kehadiran masyarakat Tionghoa tidak terasa lagi sebagai orang asing. Bahkan, beberapa bangsawan Sumenep menikah dengan orang Tionghoa,” ujar Lintu.

Pada masa pemerintahan Sultan Abdulrahman, lanjutnya, akulturasi terjadi karena untuk membuat bangunan penting keraton, Sultan mendatangkan orang-orang yang piawai. Misalnya, untuk menggambar bangunan dipakai ahli-ahli dari Eropa. Pembuatan perabot rumah tangga, pintu, dan pekerjaan kayu lainnya diserahkan kepada ahli mebel dari China.

”Maka, tidak mengherankan jika ekspresi bangunannya mewujudkan pertemuan berbagai budaya, seperti terlihat pada bangunan keraton, Masjid Agung, dan Asta Tinggi,” papar Lintu.

Untuk membangun keraton dan masjid, Lauw Pia Ngo dikirim ke Mataram untuk mempelajari bangunan keraton di sana. Namun, karena pengetahuan dasarnya arsitektur China, nuansa China tetap menonjol pada karya-karyanya. Misalnya, pendapa Keraton Sumenep dengan atap berbentuk limasan, tetapi struktur dinding pemikul dengan bubungan yang ujungnya mencuat ke atas mirip pada bangunan China.

Selain unsur arsitektur China, bangunan-bangunan di kompleks Keraton Sumenep maupun Masjid Agung Sumenep dan Asta Tinggi juga terpapar pengaruh Hindu, Jawa, dan Eropa.

Pada bangunan Masjid Agung, nuansa China lebih terasa, mulai dari gerbang menyerupai tembok besar China dengan pintu kayu yang kokoh hingga interior masjid. Bagian mimbar, mihrab, dan maksurah berlapis keramik China. Lantai masjid yang sekarang berupa keramik mulanya terbuat dari terakota.

Asta Tinggi

Jejak seni China yang menakjubkan ditemukan di makam Asta Tinggi yang terletak di perbukitan Gunung Batoan, Desa Kebunagung, sekitar 2 kilometer arah barat laut Keraton Sumenep. Kompleks pemakaman ini berada pada ketinggian sekitar 40 meter di atas permukaan laut.

”Makam Asta Tinggi merupakan makam raja-raja Sumenep dan keluarganya, yang secara kosmologis merupakan satu kesatuan dengan keraton. Pada kosmologi masyarakatnya, makam adalah medium antara dunia atas dan dunia bawah. Jadi, makam adalah elemen penting dalam tata ruang kota atau permukiman masyarakat Sumenep,” kata Lintu menjelaskan.

Di setiap cungkup makam terdapat panel-panel ragam hias yang menjadi latar belakang. Panel pada cungkup makam Pangeran Jimat, misalnya, jelas menampilkan ragam China, berupa burung feng huang (phoenix). Pada cungkup Ratu Tirtanegara, ragam yang digunakan natural. Ragam China terlihat jelas pada komposisi panel, yaitu tanaman, chi lin (unicorn), dan burung feng huang.

Meski demikian, ujar Lintu, secara kronologis, pengaruh ragam China belum dapat diterangkan secara jelas melalui bukti otentik.

Iklan
Komentar
  1. Chepy Amiraga berkata:

    hi.. lam kenal ..
    blognya oke

    saling mengunjungi yaa ..

    http://chepyamiraga.wordpress.com/2010/04/10/patungan-yuuuk/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s