Menjaga “Kesehatan” Loko Uap agar Tidak Masuk Museum

Posted: 24 April 2010 in Subjek Khusus
Tag:, ,

Kereta Wisata
Sabtu, 24 April 2010 | 14:17 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/14173432/menjaga.kesehatan.loko.uap.agar.tidak.masuk.museum.

Bunyi dentang besi beradu besi dan gerinda mesin terdengar kencang dari bagian dalam Subdepo Traksi Ambarawa di Kabupaten Semarang, Selasa (13/4). Empat petugas sedang mencocokkan dan memasang lempeng besi pada penyangga loko berbentuk “U”.

Di belakang mereka tampak B2502 sudah terungkit dari rel dengan dua roda gandar penggerak dan sepasang roda penyangga sudah ditanggalkan dari lokomotif uap berusia puluhan tahun itu. Sudah sepekan lokomotif bergigi buatan Esslingen Jerman tahun 1902 itu “dirawatinapkan” di Subdepo Traksi Ambarawa.

“Ada masalah dengan penyangga loko. Sudah aus, jadi mesti diperbaiki,” tutur Pudjijono, Kepala Subdepo Traksi Ambarawa.

Jadilah dengan delapan tenaga di Subdepo Traksi Ambarawa, B2502 itu diungkit perlahan dengan pengungkit tua dari empat sisi. Kopel penghubung roda dilepaskan dan roda dipisahkan untuk mengambil penyangga loko yang totalnya berjumlah enam buah.

Ini memerlukan tenaga ekstra, tetapi bukan yang paling berat. Memperbaiki enam penyangga yang aus dimakan usia itu justru tantangan terbesarnya. Tidak mudah mencari suku cadang loko ini lantaran pabriknya sudah lama tutup. Alhasil, para petugas Subdepo Traksi Ambarawa mesti putar otak. Tambal sana tambal sini menggunakan bahan seadanya.

“Yang bikin susah itu mencocokkan baut dan pelat tambahan ke penyangga loko,” tutur Suprayoga (45), petugas yang tengah sibuk mengutak-atik penyangga loko.

B2502 dan “saudara kembarnya” B2503 masih setia menarik dua kereta di jalur menanjak Ambarawa-Bedono sepanjang 20 kilometer. Kegagahan loko hitam tua menjadi magnet besar bagi wisatawan asing maupun lokal. Dalam sebulan setidaknya ditarget bisa ada 19 perjalanan loko uap.

Kedua loko keluaran Esslingen itu beroperasi sejak Belanda menguasai Indonesia. Keduanya mulai diistirahatkan tahun 1975. Baru pada tahun 1995, loko itu disehatkan kembali dengan beberapa perbaikan. Mereka menarik para pencarter dengan biaya Rp 5,25 juta sekali perjalanan pergi-pulang.

Tantangan terbesar di masa mendatang ialah menjaga “kesehatan” dan regenerasi kedua loko tua itu. Bagaimanapun, loko itu sudah menjadi kebanggaan sekaligus penarik wisatawan di Kabupaten Semarang. Tidak hanya menguntungkan PT Kereta Api sebagai operator, tetapi juga geliat ekonomi pariwisata di sekitarnya. Apalagi, menurut Pudjijono, 10 tahun lagi ketel uap dari kedua loko itu harus diperiksa untuk kali terakhir. Jika bagus, bisa jalan, kalau tidak, terpaksa masuk museum. “Maksimal tiga kali dengan waktu 35 tahun sekali. Ini sudah dua kali dilakukan, kalau dianggap tidak aman lagi diafkir,” ujarnya. (Antony Lee)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s